Hujan dan Cerita Usang (Part 1)
Hujan turun perlahan. Hujan pertama tahun ini. Aroma hujan mulai menyeruak. Mengembalikan aroma hujan yang telah lama hilang. Jalanan lenggang, gedung-gedung terlihat sepi. Hujan seolah telah merenggut keramaian di luar sana.
Yashinta termenung. Menatap keindahan hujan di kala senja. Yang terlihat jelas di balik kaca apartementnya. Baginya hujan adalah teman. Terkadang ia menceritakan kisahnya pada hujan. Terkadang pula hujanlah yang akan bercerita, membawakan kisah lampau Yashinta. Membuat Yashinta menyibak memorinya. Menemukan kembali cerita usangnya.
Yashinta tersenyum. Ia telah lama menanti hujan. Ada ratusan kisah yang ia simpan untuk menyambut datangnya hujan. Maklum, Yashinta sudah lama sekali tak bertemu hujan. Namun, di antara ratusan kisah itu, muncul pertanyaan di benak Yashinta. 'Aku harus mulai dari yang mana?'. Yashinta tersenyum, Kali ini lebih lebar. Sepertinya, Yashinta akan membiarkan hujan yang membawakan kembali kisah lampaunya untuk hari ini.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
Sekolah lenggang, hujan menambah suasana kesunyian sekolah. padahal baru 1 jam yang lalu di SMA Nusa Bangsa itu mengadakan perayaan peneriman siswa baru. Siswa kelas 11 dan 12 sudah bersih dari sekolah. Siswa baru? Bahkan sejak 10 menit setelah di bubarkan mereka sudah terbirit-birit untuk segera pulang. Mereka takut akan hujan yang semakin deras, tapi masih ada 2 gadis Siswa baru berteduh di bawah gapura nama sekolah. Yang satu tampak gelisah sekali ingin segera pulang. Beristirahat diranjang. Menikmati tidur pulas di temani hujan.
"Duh Yash, gimana nih? Kalo hujannya kayak gini terus, kita bakalan nginep di sini deh kayaknya" Sena gelisah. Sahabat masa kecil Yashinta itu melirik jam tangan putihnya. Yashinta turut melihat jam tangan hitamnya. "Mungkin bentar lagi juga reda" tutur Yashinta dengan tenang. Seolah masalah yang sedari tadi di gelisahkan oleh Sena bukan lah masalah besar, bahkan bukan sebuah masalah bagi Yashinta.
"Yash, aku akui kamu itu emang hebat, bisa tenang dalam keadaan yang genting. Tapi kamu ngerasa gak sih? Kalo ketenanganmu itu kadang keterlaluan?" Ujar Sena. Dahinya mengkerut. Bibirnya manyun. Sudah macam induk bebek kehilangan anaknya saja sahabat sekaligus tetangga dekat, sekaligus kerabat Yashinta itu. Yashinta tertawa. Bukan karena ia bangga di puji. Tapi tak lain dan tak bukan karena melihat Tingkah lucu Sena.
"ih, kok malah ketawa sih Yash? Memangnya lucu ya kalo kita terjebak di hujan kayak gini" kata Sena seraya melipat tangannya di depan dada. Bibirnya makin manyun. "Yang lucu bukan hujannya Na, tapi kelakuanmu itu. Aku pikir kamu bertingkah kayak gini kalo stok cemilan kamu abis doang. Atau ketika adik kembar kamu ngambil cemilan kamu, tak kusangka kamu bisa cemberut juga walau bukan karena masalah makanan" ujar Yashinta lalu tertawa. Wajah Sena Merah menahan malu, tangannya sudah sempurna terangkat keatas. Hendak memukul Yashinta. Yashinta Tertawa makin keras.
" Halo siswa baru ya?" Suara lelaki berpakaian sekolah mengagetkan dua gadis yang sedang bercengkrama itu. 'Ah, mungkin itu kakak kelas' batin Yashinta. "Udah tau ngapain tanya sih?" Ujar Sena ketus. Wajahnya sempurna manyun seperti semula. Yashinta menepuk lengan Sena lalu membisik di telinganya. "Heh dia itu kakak kelas tau, Biasanya kalo di buku-buku novel, kakak kelas itu galak tau gak" kara Yashinta pelan sekali agar tak terdengar oleh lelaki itu. Yashinta dan Sena mengalihkan pandangan. Menatap sekilas laki-laki itu." Apaan lembek gitu mukanya" bisik sena. "Kita kan gak boleh ngejudge seseorang dari penampilannya" bela Yashinta.
Lelaki itu tertawa. Lagi-lagi ia sukses membuat 2 gadis itu terkaget. "Saya gak segalak yang Kalian bayangkan kok" kata lelaki itu. Diiringi tawa kecil. Yashinta dan Sena diam."Kalian gak bisa pulang gegara hujan ini kan? Kalian pulang jalan kaki?" Tanya lelaki itu. Yashinta dan Sena mengangguk. "Saya bawa payung kalian pakai aja" ujar lelaki itu seraya menyerahkan payung ke Sena. "Wah beneran nih kak?" Tutur sena. Wajanya sudah berbinar itu. "I.." belum selesai lelaki itu berbicara. Sena sudah menyelanya. " Wah makasih kak" kata Sena. Senyum kecil sudah tersungging di wajahnya " kamu sepertinya udah gak sabar pulang ya" ujar lelaki itu. Lagi lagi seraya tertawa kecil." Eh tapi kaka pulangnya gimana?" Tanya Yashinta yang baru sadar bahwa lelaki itu hanya membawa satu payung. "Rumah Saya deket kok, kalo lari pun gak bakalan basah-basah amat." Tutur lelaki itu. Yashinta baru saja akan angkat bicara lagi. Tapi lelaki itu sudah berlari.
Yashinta dan Sena hanya bisa memandang punggung lelaki itu berlari sampai tak terlihar karena pandangan yang terhalang air hujan. di sela-sela larinya lelaki itu berkata "payungnya kembalikan besok ya. Saya keno dari kelas XI F". Yashinta tersenyum. Begitu juga dengan Sena. Tanpa ada yang menyadarinya. Di lubuk hati yang terdalam, 2 gadis itu menyimpan Rasa kagum pada Keno.
Terimakasih sudah membaca. Part 2 insyaallah akan di update besok ^^. Jangan lupa komentar ya guys. Maaf kalo ada kesalahan dalam penulisan. Maaf juga blog nya sepi g ada hiasnnya hehe ^^
Komentar
Posting Komentar